Daftar Postingan Saya

Minggu, 04 November 2012

Farmakologi “ Antibiotik Makrolida “




MAKALAH FARMAKOLOGI

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi “ Antibiotik Makrolida “
Dosen Pengampu : Ametty Ameliasari, S. Farm., Apt

                                                                







Disusun oleh :
1.   Nurul Istiq Fitriyah         III B / AKU.11.039
2.   Puji Ratnasari                III B / AKU.11.041
3.   Renita                            III B / AKU.11.043
4.   Rina                               III B / AKU.11.045




AKADEMI KEBIDANAN UNISKA KENDAL
Jalan Soekarno-Hatta No 99 Telp (0294) 381299
2011/2012
KATA PENGANTAR

            Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat hidayah dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Farmakologi “ Antibiotik Makrolida

            Penyusun berharap tulisan ini bisa memberikan wawasan luas untuk memahami tentang Asuhan Kebidanan Patologi kelainan dalam lamanya kehamilan mengenai Antibiotik Makrolida. Selain itu penyusun berharap tulisan ini dapat menjadi dasar pengantar dan pemenuhan materi perkuliahan Farmakologi “ Antibiotik Makrolida “


Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat sangat membangun, penulis mengharapkan demi kesempurnaan makalah ini dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu penyusunan tulisan ini. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.







Penyusun

                                                                       



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........................................................................................   i
KATA PENGANTAR........................................................................................   ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................   iii

BAB I       PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang..........................................................................   1 
B.     Rumusan Masalah....................................................................   1
C.     Tujuan.......................................................................................   1
D.     Manfaat.....................................................................................   2
BAB II    TINJAUAN TEORI
A.     Pengertian Antibiotik Makrolida................................................   3 
B.     Struktur obat dan Penjelasannya.............................................   3
C.     Mekanisme Kerja Antibiotik Makrolida.....................................   5
D.     Farmakokinetika.......................................................................   6
E.     Kontraindikasi Antibiotik Makrolida...........................................   7
F.      Efek Samping Antibiotik Makrolida..........................................   7
G.     Penggunaan Antibiotik Makrolida.............................................   8
BAB III    PENUTUP 
A.  Kesimpulan...............................................................................   10
B.  Saran........................................................................................   11
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................   12
                                        





BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Eritromisin, turunan dari bakteri seperti jamur, streptomyces erythaeus pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1950-an. Eritromisin menghambat sintesis protein. Dalam dosis rendah sampai sedang, obat ini mempunyai efek bakteriostatik dan dengan dosis tinggi efeknya bakteriostatik dan dengan dosis tinggi efeknya bakterisidal.
Eritromisin dapat diberikan melalui oral atau intravena. Karena asam lambung merusak obat, berbagai garam eritromisin (contoh etilsuksinat, stearat dan estolat) dipakai untuk mengulangi disolusi (pecah menjadi partikel-partikel kecil) di dalam lambung dan memungkinkan absorbsi terjadi pada usus halus. Untuk pemakaian intravena, senyawa, eritromisin laktobionat dan eritromisin gluseptat, dipakai untuk meningkatkan absorbsi obat.
Eritromisin aktif melawan hampir semua bakteri gram positif, kecuali staphylococcus aureus, dan cukup aktif melawan beberapa gram negatif. Obat ini sering diresepkan sebagai pengganti penisilin. Obat ini merupakan obat pilihan untuk pneumonia akibat mikroplasma dan penyakit legionnaire.
Eritromisin dibuat oleh streptomyces erythreus dan secara kimiawi merupakan cincin lakton makrositik. Sering golongan antibiotika ini disebut sebagai makrolida. Ia mempunyai pka yang tinggi 8,8 dan senyawa induknya (basa/mungkin rentan terhadap keasaman lambung).

B.   RUMUSAN MASALAH
1)    Apa yang dimaksud dengan Antibiotik Makrolida ?
2)    Apa saja macam-macam Antibiotik Makrolida ?
3)    Apa saja kontraindikasi Antibiotik Makrolida ?
4)    Apa saja efek samping Antibiotik Makrolida ?
5)    Bagaimana penggunaan Antibiotik Makrolida ?

C.   TUJUAN
Melengkapi tugas Farmakologi
1)    Untuk memberikan informasi tentang Antibiotik Makrolida
2)     Untuk mengetahui tentang macam-macam Antibiotik Makrolida
3)     Untuk mengetahui kontraindikasi pemberian Antibiotik Makrolida
4)    Untuk mengetahui efek samping penggunaan Antibiotik Makrolida
5)    Untuk mengetahui bagaimana penggunaan Antibiotik Makrolida

D.   MANFAAT
Manfaat  yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1)    Untuk memberikan gambaran tentang Antibiotik Makrolida.
2)    Sebagai bahan masukan untuk memperluas dan memperdalam pemahaman tentang Antibiotik Makrolida


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.   Pengertian Makrolida
Macrolide merupakan suatu kelompok senyawa yang berhubungan erat, denganciri suatu cincin lakton ( biasanya terdiri dari 14 atau 16 atom ) di mana terkait gulagula deoksi. Antibiotika golongan makrolida yang pertama ditemukan adalah Pikromisin,diisolasi pada tahun 1950 .Macrolide merupakan salah satu golongan obat antimikroba yang menghambatsintesis protein mikroba. Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu mensintesis berbagaiprotein. Sintesis protein berlangsung di ribosom, dengan bantuan mRNA dan tRNA.Pada bakteri, ribosom terdiri atas atas dua subunit, yang berdasarkan konstantasedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. untuk berfungsi pada sintesisprotein, kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom70S. Kerja dari makrolida ini adalah berikatan pada ribosome sub unit 50S dan mencegahpemanjangan rantai peptida.

B.   Struktur Obat dan Penjelasannya
Antibiotika golongan makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincinlakton yang besar dalam rumus molekulnya. Sebagai contoh terlihat pada struktur golonganmakrolida Eritromisin dibawa ini :

http://htmlimg2.scribdassets.com/7l5qhjr4jk1pcxw4/images/1-162ffd7d9d.jpg

Secara umum, antibiotika golongan makrolida memiliki ciri-ciri struktur kimia seperti berikut :
1)    Cincin lakton sangat besar, biasanya mengandung 12 – 17 atom
2)    Gugus keton
3)    Satu atau dua gula amin seperti glikosida yang berhubungan dengan cincin lakton.
4)    Gula netral yang berhubungan dengan gula amino atau pada cincin lakton
5)    Gugus dimetilamino pada residu gula, yang menyebabkan sifat basis darisenyawa dan kemungkinan untuk dibuat dalam bentuk garamnya
Berikut ini struktur kimia dari beberapa contoh antibiotic golongan makrolida :
1)    Eritromycin
Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid yang sama-sama mempunyaicincin lakton yang besar dalam rimus molekulnya.

http://htmlimg4.scribdassets.com/7l5qhjr4jk1pcxw4/images/2-548be22a94.jpg


Eritromisin terdiri dari :
a)    Aglikon eritronolid.
b)    Gula amino desosamin dan gula netral kladinosa.
c)    Membentuk garam pada gugus dimetilamino ( 3’ ) dengan asam, contoh: garam
stearat bersifat sukar larut dalam air dengan rasa yang sedikit pahit.
d)    Membentuk ester pada gugus hidroksi ( 2’ ) yang tetap aktif secara biologis dan
aktivitasnya tidak tergantung pada proses hidrolisis.contoh: ester-ester etilsuksinat, estolat, dan propinoat yang tidak berasa.
Struktur umum dari ertromycin ditunjukkan diatas cincin makrolida dan gula-guladesosamin dan kladinose. Obat ini sulit larut dalam air (0,1%) namun dapat langsunglarut pada zat-zat pelarut organik. Larutan ini cukup satabil pada suhu 4oC, namundapat kehilangan aktivitas dengan cepat pada suhu 20oC dan pada suhu asam Ertromycin biasanya tersedia dalam bentuk berbagai ester dan garam.
2)    Oleandomycin Fosfat

 
Didapat dari Streptomyces antibioticus, strukturnya terdiri dari:
a)    Aglikon oleandolida
b)    Gula amino desosamin
c)    Gula netral L-oleandrosa
Asetilasi 3 gugus hidroksi bebas dari oleandomisin menghasilkan troleandomisin, yangmempunyai 2 keuntungan dibanding oleandomisin yaitu praktis tidak berasa dan kkadarobat dalam darah lebih cepat dan lebih tinggi.

C.   Mekanisme Kerja
Golongan makrolida menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnyadengan jalan berikatan secara reversibel dengan Ribosom subunit 50S,. Sintesis proteinterhambat karena reaksi-reaksi translokasi aminoasil dan hambatan pembentuk awalsehingga pemanjangan rantai peptide tidak berjalan. Macrolide bisa bersifat sebagaibakteriostatik atau bakterisida, tergantung antara lain pada kadar obat serta jenis bakteriyang dicurigai. Efek bakterisida terjadi pada kadar antibiotika yang lebih tinggi,kepadatan bakteri yang relatif rendah, an pertumbuhan bakteri yang cepat. Aktivitasanti bakterinya tergantung pada pH, meningkat pada keadaan netral atau sedikit alkali.
Top of Form
Meskipun mekanisme yang tepat dari tindakan makrolid tidak jelas, telahdihipotesiskan bahwa aksi mereka makrolid menunjukkan dengan menghambat sintesisprotein pada bakteri dengan cara berikut:
1)    Mencegah Transfer peptidil tRNA dari situs A ke situs P.
2)    Mencegah pembentukan peptida tRNA.
3)    Memblokir peptidil transferase.
4)    Mencegah perakitan ribosom
Antibiotik macrolida terikat di lokasi P-dari subunit 50S ribosom. Hal inimenyebabkan selama proses transkripsi, lokasi P ditempati oleh makrolida. Ketika t-RNA terpasang dengan rantai peptida dan mencoba untuk pindah ke lokasi P, t-RNAtersebut tidak dapat menuju ke lokasi P karena adanya makrolida, sehingga akhirnyadibuang dan tidak dipakai. Hal ini dapat mencegah transfer peptidil tRNA dari situs Ake situs-P dan memblok sintesis protein dengan menghambat translokasi dari rantaipeptida yang baru terbentuk. Makrolida juga memnyebabkan pemisahan sebelum waktunya dari tRNA peptidal di situs A.
Mekanisme kerja makrolida, selain terikat di lokasi P dari RNA ribosom 50S, juga memblokir aksi dari enzim peptidil transferase. Enzim ini bertanggung jawab untuk pembentukan ikatan peptida antara asam amino yang terletak di lokasi Adan P dalamribosom dengan cara menambahkan peptidil melekat pada tRNA ke asam aminoberikutnya. Dengan memblokir enzim ini, makrolida mampu menghambat biosintesisprotein dan dengan demikian membunuh bakteri.

D.   Farmakokinetika
Dalam penjelasan farmakokinetik berikut akan dijelaskan mekanisme farmakokinetik 3 antibiotik turunan makrolida yaitu eritromycin, Claritromycin, danazitromycin.
1)    Eritromycin
Ertromycin basa dihancurkan oleh asam lambung dan harus diberikan dengansalut enteric. Stearat dan ester cukup tahan pada keadaan asam dan diabsorbsi lebihbaik. Garam lauryl dan ester propionil ertromycin merupakan preprata oral yang paling baik diabsorbsi. Dosis oral sebesar 2 g/hari menghasilkan konsentrasi basa ertromycinserum dan konsentrasi ester sekitar 2 mg/mL. Akan tetapi, yang aktif secaramikrobiologis adalah basanya, sementara konsentrasinya cenderung sama tanpamemperhitungkan formulasi.
Waktu paruh serum adalah 1,5 jam dalam kondisi normal dan 5 jam pada pasiendengan anuria. Penyesuaian untuk gagal ginjal tidak diperlukan. Ertromycin tidak dapatdibersihkan melalui dialysis. Jumlah besar dari dosis yang diberikan diekskresikan dalamempedu dan hilang dalam fases, hanya 5% yang diekskresikan dalam urine. Obat yangtelah diabsorbsi didistribusikan secara luas, kecuali dalam otak dan cairan serebrospinal.Ertromycin diangkut oleh leukosit polimorfonukleus dan makrofag. Oabt ini melintasisawar plasenta dan mencapai janin.
2)    Claritromycin
Dosis 500 mg menghasilkan konsentrasi serum sebesar 2-3 mg/mL. Waktuparuh claritromycin (6 jam) yang lebih panjang dibandingkan dengan eritromycinmemungkinkan pemberian dosis 2 kali sehari. Claritromycin dimetabolisme dalam hati.Metabolit utamanya adalah 14-hidroksiclaritromycin, yang juga mempunyai aktivitasantibakteri. Sebagian dari obat aktif dan metabolit utama ini dieliminsai dalam urine, danpengurangan dosis dianjurkan bagi pasien-pasien dengan klirens kreatinin dibawah 30mL/menit.
3)    Azitromycin
Azitromycin berbeda dengan eritromycin dan juga claritromycin, terutama dalam sifatfarmakokinetika. Satu dosi Azitromycin 500 mg dapat menghasilkan konsentrasi serumyang lebih rendah, yaitu sekitar 0,4 µg/mL. Akan tetapi Azitromycin dapat melakukanpenetrasi ke sebagian besar jaringan dapat melebihi konsentrasi serum sepuluh hinggaseratus kali lipat. Obat dirilis perlahan dalam jaringan-jaringan (waktu paruh jaringanadalah 2-4 hari) untuk menghasilkan waktu paruh eliminasi mendekati 3 hari. Sifat-sifatyang unik ini memungkinkan pemberian dosis sekali sehari dan pemendekan durasi pengobatan dalam banyak kasus.
Azitromycin diabsorbsi dengan cepat dan ditoleransi dengan baik secara oral.Obat ini harus diberikan 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Antasidaaluminium dan magnesium tidak mengubah bioavaibilitas, namun memperlama absorbsi dan dengan 15 atom (bukan 14 atom), maka Azitromycin tidak menghentikan aktivitasenzim-enzim sitokrom P450, dan oleh karena itu tidak mempunyai interaksi obatseperti yang ditimbulkan oleh eritromycin dan claritmycin.
E.    Kontra Indikasi
Hipersensitivitas terhadap Clarithromycin, Eritromisin atau antibiotik makrolida lainnya.

F.    Efek Samping
Efek Samping dari makrolida :
1)    Efek-efek gastrointestinal : Anoreksia, mual, muntah dan diare sesekali menyertaipemberian oral. Intoleransi ini disebabkan oleh stimulitas langsung pada motilitasusus.
2)    Toksisitas hati : dapat menimbulkan hepatitis kolestasis akut (demam, ikterus,kerusakan fungsi hati), kemungkinan sebagai reaksi hepersensitivitas.
3)    Interaksi-interaksi obat : menghambat enzim-enzim sitokrom P450 danmeningkatkan konsentarsi serum sejumlah obat, termasuk teofilin, anti koagulanoral, siklosporin, dan metilprednisolon. Meningkatkan konsentrasi serum digoxinoral dengan jalan meningkatkan bioavailabilitas.

G.   Penggunaan Klinik
1)    Infeksi Mycoplasma pneumonia
Eritromisin yang diberikan 4 kali 500 mg sehari per oral mempercepat turunnya panas dan mempercepat penyembuhan sakit.
2)    Penyakit Legionnaire
Eritromisin merupakan obat yang dianjurkan untuk pneumonia yang disebabakan oleh Legionella pneumophila. Dosis oral ialah 4 kali 0,5-1 g sehari atau secara intravena 1-4 g sehari.
3)    Infeksi Klamidia
Eritromisin merupakan alternatif tetrasiklin untuk infeksi klamidia tanpa komplikasi yang menyerang uretra, endoserviks, rektum atau epididimis. Dosisnya ialah 4 kali sehari 500 mg per oral yang diberikan selama 7 hari. Eritromisin merupakan obat terpilih untu wanita hamil dan anak-anak dengan infeksi klamidia.
4)    Difteri.
Eritromisin sangat efektif untuk membasmi kuman difteri baik pada infeksi akut maupun pada carrier state. Perlu dicatat bahwa eritromisin maupun antibiotika lain tidak mempengaruhi perjalanan penyakit pada infeksi akut dan komplikasinya. Dalam hal ini yang penting antitoksin.
5)    Infeksi streptokokus
Faringitis, scarlet fever dan erisipelas oleh Str. Pyogenes dapat diatasi dengan pemberian eritromisin per oral dengan dosis 30 mg/kg BB/hari selama 10 hari. Pneumonia oleh pneumokokus juga dapat diobati secara memuaskan dengan dosis 4 kali sehari 250-500 mg.

6)    Infeksi stapilokokus
Eritromisin merupakan alternatif penisilin untuk infeksi ringan oleh S. Aureus (termasuk strain yang resisten terhadap penisilin). Tetapi munculnya strain-strain yang resisten telah mengurangi manfaat obat ini. Untuk infeksi berat oleh stafilokokus yang resisten terhadap penisilin lebih efektif bila digunakan penisilin yang tahan penisilinase (misalnya dikloksasilin atau flkloksasilin) atau sefalosporin. Dosis eritromisin untuk infeksi stafilokokus pada kulit atau luka ialah 4 kali 500 mg sehar yang diberikan selama 7-10 hari per oral.
7)    Infeksi Campylobacter
Gastroenteritis oleh Campylobacter jejuni dapat diobati dengan eritromisin per oral 4 kali 250 mg sehari. Dewasa ini fluorokuinolon telah menggantikan peran eritromisin untuk infeksi ini.
8)    Tetanus
Eritromisin per oral 4 kali 500 mg sehari selama 10 hari dapat membasmi Cl. tetani pada penderita tetanus yan alergi terhadap penisilin. Antitoksin, obat kejang dan pembersih luka merupakan tindakan lain yang sangat penting.
9)    Sifilis
Untuk penderita sifilis stadium diniyang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan eritromisin per oral dengan dosis 2-4 g sehari selama 10-15 hari.
10) Gonore
Eritromisin mungkin bermanfaat untuk gonore diseminata pada wanita hamil yang alergi tehadap penisilin. Dosis yang diberikan ialah 4 kali 500 mg sehari yang diberika selama 5 hari per oral. Angka relaps hampir mencapai 25 %.
11) Penggunaan profilaksis
Obat terbaik untuk mencegah kambuhnya demam reumatik ialah penisilin. Sulfonamid dan eritromisin dapat dipakai bila penderita alergi terhadap penisilin. Eritromisin juga dapat dipakai sebagai pengganti penisilin untuk penderita endokarditis bakterial yang akan dicabut giginya. Dosis eritromisin untuk keperluan ini ialah 1 g per oral yang diberikan 1 jam sebelum dilakukan tindakan, dilanjutkan dengan dosis tunggal 500 mg yang diberikan 6 jam kemudian.
12) Pertusis
Bila diberikan pada awal infeksi, eritromisin dapat mempercepat penyembuhan.

BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Sebagian besar antibiotik mempunyai dua nama, nama dagang yang diciptakan oleh pabrik obat, dan nama generik yang berdasarkan struktur kimia antibiotik atau golongan kimianya.Contoh nama dagang dari amoksilin, sefaleksin, siprofloksasin, kotrimoksazol,tetrasiklin dan doksisiklin, berturut-turut adalah Amoxan, Keflex, Cipro, Bactrim, Sumycin, dan Vibramycin.Setiap antibiotik hanya efektif untuk jenis infeksi tertentu. Misalnya untuk pasien yang didiagnosa menderita radang paru-paru, maka dipilih antibiotik yang dapat membunuh bakteri penyebab radang paru-paru ini. Keefektifan masing-masing antibiotik bervariasi tergantung padalokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.Antibiotik oral adalah cara yang paling mudah dan efektif, dibandingkan dengan antibiotik intravena (suntikan melalui pembuluh darah) yang biasanya diberikan untuk kasus yang lebih serius.
 Beberapa antibiotik juga dipakai secara topikal seperti dalam bentuk salep,krim, tetes mata, dan tetes telinga.Penentuan jenis bakteri patogen ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium. Teknik khusus seperti pewarnaan gram cukup membantu mempersempit jenis bakteri penyebab infeksi.Spesies bakteri tertentu akan berwarna dengan pewarnaan gram, sementara bakteri lainnya tidak.Tehnik kultur bakteri juga dapat dilakukan, dengan cara mengambil bakteri dari infeksi pasien dan kemudian dibiarkan tumbuh. Dari cara bakteri ini tumbuh dan penampakannya dapatmembantu mengidentifikasi spesies bakteri.
 Dengan kultur bakteri, sensitivitas antibiotik juga dapat diuji. Penting bagi pasien atau keluarganya untuk mempelajari pemakaian antibiotik yang benar, seperti aturan dan jangka waktu pemakaian. Aturan pakai mencakup dosis obat, jarak waktu antar pemakaian, kondisi lambung (berisi atau kosong) dan interaksi dengan makanan dan obat lain.Pemakaian yang kurang tepat akan mempengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnyaakan mengurangi atau menghilangkan keefektifannya.Bila pemakaian antibiotik dibarengi dengan obat lain, yang perlu diperhatikan adalahinteraksi obat, baik dengan obat bebas maupun obat yang diresepkan dokter.



B.   Saran
1)    Bagi petugas kesehatan agar senantiasa meningkatkan Pengetahuan dan keterampilannya agar bisa memberikan obat atau terapi yang sesuai sebagai pertolongan pertama, walaupun kewenangan seorang bidan hanya memberikan obat sesuai advice dokter.
2)    Bagi teman-teman agar belajar yang rajin agar kelak bisa menangani pasien dengan profesional.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011, Macrolide, http://en.wikipedia.org/wiki/Macrolide, diakses pada 1 Oktober 2011, pada 14.30 WIB.
Siswandono, Soekardjo.1995. Kimia Medisinal.Surabaya:Airlangga University Press



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar